Lihatlah, mimpi
itu berpendaran di lorong seberang ..
Ringkas, tajam, tapi
sedetik kemudian hanyut terhenyakkan ..
Di paksa untuk
tersemoga, membuatnya nyata seolah memang nyata ..
Kian kentara
terlekat di bersama hujan yang membentuk butiran-butiran ..
Dia hanya berdiri
di tengah hujan yang tak mengerti apa-apa ..
Mengapa hujan terus
membasahi tubuh indah yang tak bisa tersentuh?
Menatap nanar di
sepanjang jalan yang tergenang, membentuk tanya, menunggu apa?
Bukan! Sungguh itu
bukan sosok di seberang yang memperhatikannya dengan lusuh ..
Sedetik, semenit,
hingga sesuatu telah memberi batas di antara mereka ..
Tak ada kata,
aksara, dan imaji.
Hanya menggumam
dalam hati ..
Saat dia beranjak
dari tempatnya menumpu dan menatap sosok yang lusuh itu ..
Tangannya melambai
pelan, “Selamat tinggal.”
Dan sosok itu pun
membalas lambaian tangannya dengan sederhana ..
“Semoga kita bertemu lagi.”
Mimpi yang
berpenderan itu berlalu ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar