Dia memalingkan wajah sejenak, lalu balas
menatapku. “Tidak. Aku tidak merindukannya.” katanya sebelum berpaling lagi.
Aku mengerutkan kening, lamat-lamat menatapnya. Aku
mencoba tetap menunjukkan ekspresi biasa saja begitu tahu kalau ia membalas
ucapanku seolah tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Aku mengembuskan napas panjang. Aku memilih
diam dan tak memberikan tanggapan apapun.
Hening hingga aku bisa mendengar detak jantungku
sendiri. Aku tidak mendramatisirnya. Sungguh, aku bisa mendengar jantungku
berdegup seolah mengentak dadaku keras-keras meskipun aku bersamanya di tempat
yang ramai dengan orang-orang.
Untuk sesaat aku merasa bahwa aku begitu keras
padanya. Tapi, apakah aku akan membiarkannya menghabiskan waktu bersama lelaki
lain? Merindukan lelaki itu?
Apa aku bodoh dengan menutup mata dan telinga
dengan semua yang kulihat dan kudengar? Ya, mungkin.
Tapi, apakah dia bisa sedikit lebih jujur tentang perasaannya?