Minggu, 15 November 2015

Di Batas Kota Ini ..

Ketika pertama kali aku melangkahkan kaki meninggalkan kota ini, ada sesuatu yang datang menembus dan menikam perasaan. Perasaan yang menduga-duga. Penuh prasangka. Entah bagaimana menjelaskannya. Hanya saja,,, entahlah. Mungkin hanya aku yang terlalu perasa..

Apakah aku salah ketika aku memintamu hanya mencintaiku selama sisa hidupmu?

Aku dapat membayangkan bagaimana raut wajahmu kalau nanti aku benar-benar menanyakannya. Kau mungkin akan berpikir aku egois, bahkan gila! Bisa saja setelah ini kau malah memilih untuk menjauhiku. Memilih jalan yang tidak pernah aku lewati. Memilih untuk berputar jauh ketimbang bertemu denganku di tengah jalan.

Ya, aku masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku itu. Aku hanya tahu kau wanita yang akan menyempurnakanku dengan ketidaksempurnaanmu. AKu hanya tahu kau indah seindah-indahnya. AKu pun telah jatuh cinta kepadamu dengan sejatuh-jatuhnya. Namun, bagaimana dengan perasaanmu?

AKu terlalu bodoh untuk selalu berimajinasi. Mencumbui bayangan yang sejatinya tak pernah terpantulkan.

Senin, 12 Oktober 2015

SEMBURAT ...

tak secepat itu hujan bisa pergi ..
terlebih ketika semburat awan mendung bersimbah di sepanjang langit ..
derainya mengetuk pintu-pintu kaca ..
berdetak, menggertak, menyentakkan kita ..

mungkin, ketika aku bertanya mengapa hujan itu datang ..
sama halnya mengapa kau tak seperti sebelum hujan itu datang ..
mengapa kau membiarkan aku bertanya kapan hujan akan reda ..
mengapa kau tak membiarkan aku melangkah meninggalkan semuanya ..

sederhana, bukan?

seharusnya aku mengerti ..
tapi sepertinya aku tidak mengerti ..
aku tahu kau mengerti ..
tapi kau tak membiarkan aku mengerti ..

kau hanya tersenyum, manis sekali ..
hanya mengatakan bahwa hujan adalah urusan Tuhan ..
hanya mengatakan bahwa setelah hujan biasanya ada pelangi ..
hanya mengatakan bahwa tak selamanya mendung itu berarti akan hujan ..

aku tahu, kau memaksakan supaya aku mengerti ..
tapi sungguh, kau sedang bersembunyi ..
ber-rahasia di dalam hujan ..
di dalam hatimu tersimpan ..

Senin, 04 Mei 2015

Selamat Tinggal

Lihatlah, mimpi itu berpendaran di lorong seberang ..
Ringkas, tajam, tapi sedetik kemudian hanyut terhenyakkan ..
Di paksa untuk tersemoga, membuatnya nyata seolah memang nyata ..
Kian kentara terlekat di bersama hujan yang membentuk butiran-butiran ..

Dia hanya berdiri di tengah hujan yang tak mengerti apa-apa ..
Mengapa hujan terus membasahi tubuh indah yang tak bisa tersentuh?
Menatap nanar di sepanjang jalan yang tergenang, membentuk tanya, menunggu apa?
Bukan! Sungguh itu bukan sosok di seberang yang memperhatikannya dengan lusuh ..

Sedetik, semenit, hingga sesuatu telah memberi batas di antara mereka ..
Tak ada kata, aksara, dan imaji.
Hanya menggumam dalam hati ..

Saat dia beranjak dari tempatnya menumpu dan menatap sosok yang lusuh itu ..
Tangannya melambai pelan, “Selamat tinggal.”
Dan sosok itu pun membalas lambaian tangannya dengan sederhana ..
“Semoga kita bertemu lagi.”

Mimpi yang berpenderan itu berlalu ..

Kamis, 19 Maret 2015

Tanya ..

Kepadamu ..
Bagaimana seharusnya??
Saat aku meminta dan kau menunda ..
Saat aku menunggu dan kau meragu ..

Adakah aku disana?
Adakah kita di dalam mimpi yang sama?
Apakah kita akan seperti seharusnya?
Ataukah kita takkan seperti seharusnya?

Sampai kapan aku akan tersembunyi?
Dimana lagi aku harus bersembunyi?
Bumi telah lelah menyembunyikan aku ..
Seperti aku yang telah lelah menunggu ..

Apakah aku harus kembali berpura-pura??
Bepura-pura bahwa semua ini tidak sia-sia ..
Membuat sajak dan klise nostalgia ..
Tentang janji dan ungkapan yang seolah akan nyata ..

Dimana aku seharusnya berada?
Apakah aku sepantasnya disini?
Ataukah aku seharusnya begini saja?
Tersembunyi tersudut tanpa kepastian ..

Pernah mendengar bagaimana aku berdusta tentang kebahagiaan?
Ku rasa kau tau saat tertawa ku di paksakan ..
Ku rasa kau memang tau ..
Dan memang seharusnya kau tau ..

Senin, 16 Februari 2015

Kau sama ...

Jadi dia datang dan berkata padamu: “Kau sama” ..
Caramu, tandamu, mungkin juga kematianmu ..
Dan aku? Tidak! Seketika itu kau tahu aku mulai bertanya ..
Jangan uji kataku, cukuplah mempercayainya saja ..

Ketika aku berharap pada jiwa yang yang tak menjawab ..
Ketika apa? Dimana? Kemana? Dan detik yang terbuang ..
Dan jangan menatapku! Kau tidak mengejutkannya ..
Kau berdiri disana, bermain peran, dan tanpa perasaan ..

Kekuatanmu berakhir, dan mendapatkan hadiah yang tak pantas ..
Ketika darahmu tumpah, dan dia meminumnya dari tengkorakmu ..
Kau mengeluarkan air matamu dari wajahmu sendiri ..
Dan menarik lidahmu dari mulutmu sendiri ..

Langit akan runtuh ..
Hujan akan jatuh dari langit ..
Dan aku akan memakai mahkotamu ..
Jangan menatapnya, teruslah bersembunyi ..

Siapa yang kini bersembunyi?
Kau bisa berlari tapi tidak bersembunyi, bersamanya ..
Dan akan berakhir, kau akan menemuinya ..
Caramu, tandamu, mungkin juga kematiannmu ..